TikTok “Bodo Amat” dan Komunikasi Publik Para Pesohor

  • Whatsapp
TikTok Istri Gubernur Sultra
Andy Syahrir
hotel venus kendari

OPINI – Seyogyanya, ribuan buruh itu hendak berunjukrasa. Hari itu adalah hari mereka. Hari Buruh. Hari ketika mereka punya panggung untuk bersuara lantang di mimbar bebas.

Hari ketika pemerintah harus sibuk menenangkan mereka. Jangan sampai berujung ricuh. Atau mengganggu ketenteraman masyarakat lainnya. Hari ketika mereka sedikit menikmati “perhatian pemerintah” dalam pengertiannya yang harfiah.

Bacaan Lainnya

Namun, mereka berhadapan dengan Ganjar. Iya, Ganjar yang itu. Maksudnya, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Yang suka unggah videonya ke media sosial.

Alih-alih menghadapi buruh secara formal dengan menerima perwakilan di kantornya –seperti umumnya pejabat ketika menerima demonstran. Ganjar memilih ngajak dangdutan.

Ganjar maju ke kerumunan. Berjoget. Istrinya, Ibu Siti Atiqah, tidak mau ketinggalan. Dia –dengan mengenakan kebaya– juga menceburkan diri di tengah-tengah panggung. Berlenggak lenggok bersama para buruh. Selesai?

Belum. Istri Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Hanif Dhakiri, Ibu Ma’rifah, tak mau kalah. Kendati mengenakan kebaya pula, istri menaker itu larut dalam joget dangdutan dengan Lagu Sambalado-nya Ayu Ting Ting. Sampai-sampai Ganjar berkomentar betapa luwesnya Ibu Ma’rifah berjoget.

Cair. Hari Buruh yang identik dengan tegang-tegangan. Bakar-bakaran. Mogok-mogokan. Berubah menjadi penuh tawa gembira.

Begitulah. Para pesohor itu mencoba berkomunikasi dengan rakyatnya. Membaur. Itu peristiwa 1 Mei 2016 silam. Ketika negara api belum menyerang…hehehe.

Dangdutan para pemimpin –bahkan bersama istri-istrinya– merupakan cara mereka berkomunikasi dengan publik. Alih-alih berdebat di ruangan formal, mereka memilih joget-jogetan. Bersama buruh.

Dan Anda tahu, di sela-sela mereka bergoyang dan tertawa-tawa, bisa jadi ada pesan-pesan serius yang mereka saling pertukarkan. Pesannya jelas, persoalan bangsa (baca: buruh) tidak harus melulu dibicarakan dengan saling bersitegang urat leher.

Goyangan istri Ganjar dan Hanif itu dilakukan di ruang publik. Disiarkan oleh media massa. Namun, tidak ada nada sumbang yang menyorot keduanya. Sebab, semua mahfum, keduanya sedang membaur dengan masyarakatnya. Mengidentikkan diri dengan masyarakatnya.

Saya teringat pada sebuah buku yang tidak begitu tebal berjudul Managing Milennials yang ditulis oleh Kevin E. Phillips yang diterbitkan pertama kali tahun 2019 silam.

Buku itu tentang cara para pemimpin perusahaan mengoptimalkan potensi para tenaga kerja mereka dari kalangan milenial. Sebab, banyak di antara mereka merasa tidak mampu mengelola karyawan milenialnya –yang karakter dan gaya hidupnya begitu berbeda dengan generasi sebelumnya.

Kevin membongkar Golden Rule yang mengajarkan, “do unto others as you would have them do unto you”. Perlakukan orang lain sama seperti Anda ingin diperlakukan.

Menghadapi milenial, kata Kevin, aturan itu tidak berlaku. Untuk bisa memanfaatkan potensi para milenial secara optimal, “do unto others as they want to be done unto.” Perlakukan orang lain sebagaimana mereka ingin diperlakukan.

Jika Anda ingin diikuti. Pesan-pesanmu diterima, perlakukan orang lain sebagaimana mereka ingin diperlakukan.

Saat ini, Anda tidak lagi bisa memaksa seorang murid selalu lipat tangan di bangku paling depan ketika gurunya sedang menerangkan –yang lalu dari sana kita berharap anak itu mampu menyerap pembelajaran dengan baik.

Anda harus lebih menyelami keinginan, bakat, potensi, dan minatnya. Anda tidak bisa lagi memberikan metode pembelajaran yang seragam pada semua anak untuk membuat mereka menjadi lebih pintar.

Pada kalangan publik figur, para pesohor: politisi, istri politisi, artis, aktor, para pemengaruh, sadar atau tidak sadar, pun telah meninggalkan pakem Golden Rule tadi, yang lalu menganut “do unto others as they want to be done unto.” Agar tetap bertahan.

Sebab, kita telah menjelma menjadi apa yang disebut oleh Sejarawan Yuval Noah Harari sebagai Homo Kreator. Evolusi komunikasi manusia setelah meraih gelar Homo Sapiens. Manusia cerdas.

Homo Kreator, yang salah satunya ditandai dengan berkembangnya kebudayaan komunal baru melalui dunia virtual yang menghubungkan manusia dari berbagai belahan dunia tanpa ada lagi sekat ruang dan waktu. Di peradaban seperti inilah kita berada sekarang.
*
Tiba-tiba TikTok Ibu Agista Ariany, istri Gubernur Sultra Ali Mazi, viral. Pro dan kontra. Ada yang suka dan tak sedikit yang mencibir.

Di sana, Ibu Agista sedang berjoget. Mengikuti lagu yang sedang viral-viralnya. Lagu yang memberikan pesan “emang gue pikirin” pada energi negatif yang berseliweran mendekatinya.

Video TikTok itu durasinya begitu singkat. Jauh lebih singkat dari video TikTok Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Ketika berjoget ala moonwalk-nya Michael Jackson. Yang dikirim ke istrinya yang sedang isolasi mandiri karena Covid. Agar imunnya naik.

Pesannya jelas. Pertama, kita harus tetap bahagia. Kedua, gunakan saluran komunikasi era “Homo Kreator” agar dijangkau banyak orang. Kesampingkan Golden Rule yang selama ini membelenggu mindset –agar pesan dapat diterima.

Apa yang dilakukan Ibu Agista adalah adaptasi komunikasi publiknya terhadap peradaban. Jika istri Ganjar dan Hanif mengenakan kebaya yang sopan ketika berjoget, Ibu Agista mengenakan busana formil yang tak kalah sopannya.

Jika Ganjar dan Hanif bersama istri mereka masing-masing memberikan pesan bahwa Hari Buruh tidak harus selalu tegang-tegangan, Ibu Agista memberi pesan bahwa diomongin orang, dihina orang, dimunafikin orang, cuekin saja.

Mark Manson dalam buku larisnya berjudul “Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat” mengatakan, memedulikan terlalu banyak hal akan berakibat buruk untuk kesehatan mental. So, bodo amat.

Ibu Agista menggunakan panggung TikTok untuk menyapa publik. Panggung tanpa batas waktu dan tanpa sekat ruang. Menjangkau banyak orang. Menjangkau kita semua, masyarakat Sultra.

Pesan yang jelas bahwa dirinya adalah bagian yang tetap beradaptasi dengan perubahan peradaban. Pesan berikutnya, ketimbang balik marah-marah, mencak-mencak merespon setiap persoalan hidup, bukankah lebih baik kita TikTok sembari bernyanyi, “bodo amat”?*

Penulis. Andy Syahrir