OPINI: Menakar Tema Konferensi PWI Sultra “Menjaga Etika, Menjamin Kemerdekaan Pers”

PWI Sultra
Pembukaan Konferensi PWI Sultra, Jumat (25/9/2021) Foto. metrokendari.id

METROKENDARI.ID : Sekarang ini semua orang sudah jadi wartawan. Informasi meluber dari berbagai kalangan. Informasi lahir dari berbagai sudut, ada dari kalangan jurnalis warga (citizen journalism) dan ada dari Wartawan asli dan yang mengaku-ngaku wartawan.

Adakah wartawan palsu? Banyak sekali tapi lain waktu saya jelaskan kalau itu, lengkap dengan ciri-cirinya beserta modus kerjanya dibeberkan lain waktu nah.

Informasi meluber ini bukan lagi sebagai suplemen baik dalam mengarungi kehidupan tapi berbalik arah menjadi ancaman berkehidupan.

Kita dibuat kaya informasi namun dangkal makna dan bahkan cenderung berita palsu. Sebabnya informasi dikelola tanpa Standar Operasional Prosedur (SOP). Apalagi ini SOP? Adakah SOP-nya wartawan? Aduh, ini juga pertanyaan kayak anak kecil saja. Harus paham bos, semua pekerjaan ada SOP-nya. Jangan asal gas rem gas rem.

Kembali ke laptop, maksudku kembali ke judul. Menakar tema Konferensi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sultra “Menjaga Etika, Menjamin Kemerdekaan Pers” Nah ini yang penting untuk kita kupas.

Jadi begini, entah kenapa banyak wartawan yang tidak membaca apalagi memahami, Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Padahal ini pedoman utama dalam mengarungi profesi mulia ini. Jangan asal main gantung id card, jangan asal jalan tanpa pembekalan dasar-dasar jurnalistik sebabnya bisa fatal.

Ibaratnya, kalau anda sedang mengendarai motor bisa bahaya kalau tidak mahir. Misalkan kamu lagi naik motor balap-balap tiba-tiba tikungan kunci leher. Bunuh diri itu. Begitu juga dengan profesi wartawan, anda memilih profesi ini maka mesti paham SOP-nya.

Menjaga etika maksudnya kalau pergi liputan jangan pakai sendal jepit, kaos oblong, celana robek-robek kayak pemain band dan jangan lupa sikat gigi. Bah sesederhana itukah etika? Itu baru penampilan luar bosku. Ada yang lebih dalam yang kita perlu taat asas. Soal etika menulis berita, wawancara dan menjaga pagar-pagar kebebasan.

Jadi begini lagi, wartawan itu ada empat fungsinya. Informasi, edukasi, kontrol dan hiburan. Dalam menjalankan harus menghormati hak asasi setiap orang. Jangan kamu jadi polisi atau hakim yang seakan-akan bisa memutuskan perkara. Ada asas praduga tak bersalah. Makanya wartawan harus profesional.

Sebelum turun lapangan hal wajib diberi ilmu dari pimpinan media tempatmu bekerja. Jangan main asal jadi wartawan. Nanti keberadaanmu di dunia jurnalis jadi benalu, sebabnya beritamu tidak sesuai kaidah jurnalistik.