HUT RI 2022

Bukan PHK, 40% Warga AS Berniat Resign! Tanda Resesi ‘Palsu’?

Resign Massal
Foto: Demo warga Michigan, Amerika Serikat wujud kekecewaan warga setelah Gubernur Michigan memerintahkan warga tetap di rumah guna mencegah penyebaran virus corona (Covid-19). (AP Photo/Paul Sancya)
ADVERTISEMENT

METROKENDARI.ID – Isu resesi yang akan dialami Amerika Serikat (AS) semakin menguat setelah inflasi masih tetap meninggi dan Federal Reserve (The Fed) selaku bank sentral AS semakin agresif menaikkan suku bunga.

Inflasi pada bulan Juni tercatat melesat 9,1% year-on-year (yoy) tertinggi dalam 41 satu tahun terakhir, padahal The Fed sudah menaikkan suku bunga 3 kali dengan total 150 basis poin menjadi 1,5% – 1,75%.

Tak pelak, pasar memperkirakan The Fed akan semakin agresif di bulan ini, ada kemungkinan suku bunga dinaikkan hingga 100 basis poin menjadi 2,5% – 2,75%.

Dengan inflasi yang tinggi, daya beli masyarakat tentunya akan tergerus, padahal konsumsi rumah tangga merupakan tulang punggung perekonomian AS, dengan kontribusi sebesar 70% dari total produk domestik bruto (PDB).

Kemudian, suku bunga yang tinggi akan menghambat ekspansi dunia usaha.Alhasil, resesi pun di depan mata.

Namun. tidak sedikit yang mendebat jika resesi di Negeri Paman Sam Tidak akan terjadi. Salah satu alasannya yakni pasar tenaga yang sangat kuat.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan sepanjang bulan Juni perekonomian mampu menyerap 372.000 tenaga kerja di luar sektor pertanian (non-farm payrolls/NFP), jauh lebih tinggi dari estimasi Dow Jones sebesar 250.000 tenaga kerja.

Sementara itu tingkat pengangguran tetap 3,6%, dan rata-rata upah per jam naik 5,2% (yoy), juga lebih tinggi dari estimasi Dow Jones 5% (yoy).

Kepala ekonom Jefferies Group, Aneta Markowska, menjadi salah satu yang menyatakan resesi tidak akan terjadi. Ia berpendapat ramalan resesi itu “palsu”, Meski mengakui ekonomi AS kini mendapat sejumlah hambatan.

“Dengan kata lain, resesi saat ini hanya ada dalam imajinasi, bukan di dunia nyata,” katanya dalam sebuah laporan penelitian baru, melansir Fortune, Rabu (20/8/2022).

Ini bukan tanpa alasan. Menurutnya rumah tangga dan bisnis masih memiliki banyak uang tunai, yang membuat harga dan tingkat permintaan mereka tidak elastis dalam jangka pendek,

Indikator resesi lain seperti tingkat pengangguran juga tak akan terpenuhi. Ia menyakini masih ada jutaan lowongan pekerjaan dan tak akan ada pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran karena perusahaan masih mendapat margin.

Survei yang dilakukan McKinsey and Co. menunjukkan bukannya PHK malah 40% dari pekerja di Amerika Serikat mempertimbangkan mengundurkan diri dari pekerjaannya dalam 3 sampai 6 bulan ke depan. Padahal, isu resesi sedang panas-panasnya dibicarakan.

ADVERTISEMENT